|
2/15/2006
Do We Care?
Setiap hari, ada pemandangan yang selalu membuat hati gw
pedih. Gw melihat bagaimana tukang sampah selalu mencoba untuk tidak
menghiraukan bau yang menyengat dari setiap tempat sampah yang ia kerjakan.
Mereka ngga pedulikan lalat-lalat yang mengerubungi sampah dan juga mereka ngga
peduli dengan penyakit akibat kotoran dari tumpukan sampah itu. Mereka lakukan
itu semua untuk dapat bertahan hidup.
Setiap hari, gw melihat orang yang sudah lanjut usianya, tapi mereka harus berjualan kerupuk atau mungkin bawang merah. Sering gw perhatiin mereka ngga pake alas kaki sama sekali. Dan tanpa peduli dengan umurnya yang lanjut, dengan pakaian seadanya, mereka terus berkeliling untuk menawarkan dagangan mereka, walaupun mungkin keuntungan yang didapat ngga seberapa. Atau mungkin para tukang becak, yang tanpa memperdulikan terik matahari yang menyengat, mereka seperti tanpa peduli mengayuh becak mereka Dan mereka setia untuk ngelakuin itu, untuk bertahan hidup.
Ada
Setiap hari, hati gw sperti teriris, gw sedih melihat
mereka.Gw ngga tega melihat penderitaan mereka, yang sebenernya mereka lakuin
cuma mencoba untuk bertahan hidup. Dan di saat yang sama gw selalu berpikir,
apa yang bisa gw lakuin untuk meringankan beban mereka? Kenapa hal ini bisa
terjadi dalam kehidupan mereka?
Di sisi lain, banyak orang yang ngga peduli dengan keadaan
ini. Banyak orang yang menghabiskan uangnya di tempat-tempat yang hanya
memberikan kesenangan sementara. Dengan alasan melepas stress, orang-orang
berlomba ke tempat dugem atau karaoke atau bahkan ke tempat pelacuran.
Atau para petani yang berusaha keras menunggu panen mereka,
setelah mereka bekerja berbulan-bulan, ternyata hasil panen mereka gagal karena
banjir. Kalaupun panen mereka berhasil & mereka mengolah padi menjadi
butiran beras dan tahukah kamu bahwa setiap bulir beras mereka masukkan ke
dalam satu kaleng kerupuk dan hanya dihargai Rp.5.000. Padahal untuk
mendapatkan beras sebanyak satu kaleng kerupuk itu dibutuhkan berkilo-kilo
padi.
Seringkali gw berdoa dengan sedihnya, dan gw bertanya apa
yang bisa gw lakuin. Di suatu kesempatan, gw n temen-temen bisa melayani n
mengunjungi orang-orang yang tinggal di pinggir rel kereta. Tanpa mempedulikan
kesusahan mereka, mereka begitu senang & gembira melihat kedatangan kami.
Suara kereta yang selalu melewati rumah kardus mereka, kesulitan ekonomi yang
mereka hadapi sepertinya sirna ketika kami datang melayani mereka. Tapi,
setelah kami pulang, apa yang mereka akan lakukan? Hati gw sedih setiap kali
melihat orang-orang yang terlupakan ini?
Sedih aja ngga cukup. Apa yang bisa kita perbuat? Apa yang
bisa kita lakukan buat menolong mereka? Apakah kita terlalu sibuk dengan
pribadi kita, sampai kita ngga peduli dengan orang-orang ini? Rasa kasihan n
simpati, itu ngga cukup. Hati gw bener-bener hancur melihat hal ini. Tapi,
apakah kita peduli dengan keadaan mereka?
“For he shall deliver the needy when he cries;and the poor with no helper. He shall have pity on the poor and needy, and shall save the souls of the needy.�
http://bluejoe.blogs.friendster.com/thevision/
| « back |





F A Q
