Visi Christian Bookstore
USER LOGIN
BENEFITS
  1. Gratis ongkos kirim untuk pengiriman ke wilayah Kota Bandung (kecuali Cimahi)
  2. Jaminan uang kembali
SERVICES
  1. Jika Produk tidak tersedia, silahkan pesan melalui email ke webadmin@visi-
    bookstore.com
  2. Pesanan via telp / sms hubungi : 08157003128, Pin Blackberry: 2228A50A
TESTIMONIAL
  • Jani Hutagalung (Penyanyi Rohani,Bank Lippo Cab. Melawai)

    "Puji Tuhan, .... Suasana yg hangat dan ramah tersirat dari setiap pelayanan Toko Buku Rohani ini, Tuhan Yesus Memberkati"
  • Johanes "Joe-Nazareth" Octavianus (Penyiar & Account Executive Radio Maestro)

    "Tokonya keren abis, buku-bukunya lengkap, VCD Importnya mantap. Butuh apalagi, pokoknya semua keperluan rohani kita terpenuhi disini. Ngga rugi dech!"
  • Mawar Simorangkir (Penyanyi Rohani)

    "Cukup baik & penataan tokonya bagus,SUKSES!"
Cahaya Bagi Negeri Indonesia
zondervan
ARTICLES
Author : Saumiman Saud
Email : saumiman@gmail.com
Pendeta Gereja Injili Indonesia, San Jose (USA). Penulis buku : Pendetaku Dipuji dan Dicaci terbitan Kairos-Jogyakarta, Di balik topeng org percaya.

5/05/2006

ISTRI PENDETAKU!

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiriÂ? (Amsal 14 :1)

Artikel ini dihadiahkan buat seluruh pembaca wanita dan secara khusus para isteri pendeta di mana saja berada. Happy Mother's day. Tuhan memberkati anda dan keluarga anda. Ia tidak pernah meninggalkan anda (Ibrani 13 : 5b)

Martin Luther, seorang tokoh protestan, menghasilkan salah satu keputusan bahwa pendeta boleh menikah. Kalangan Katolik hingga hari ini masih belum memperbolehkan pastornya menikah. Alasan yang sederhana supaya sang pastor konsentrasi secara penuh terhadap pelayanan, tanpa harus ditambah beban memikirkan anak dan isteri.

Ada baiknya pendeta itu berkeluarga, dengan demikian isteri dan anak-anak. Mereka justru diharapkan mendukung pelayanan sang pendeta. Namun permisi tanya, apakah panggilan pelayanan seorang pendeta juga sejalan sebagai panggilan bagi isterinya? Visi mereka apakah harus sama? Semangat dan beban pelayanannya bagaimana? Lalu, pengetahuannya tentang ilmu Teologi bagaimana? Bersyukurlah kalau isteri pendeta anda juga lulusan Seminari. Namun bila tidak, apalagi sang isteri harus bekerja di perusahaan sekuler, maka akan muncul berbagai hal yang rumit.

Memang serba salah, sebab sebagai isteri pendeta biasanya "perlakuan terhadapnya"Â? juga hampir sama seperti suaminya yakni "maju kena mundur kena". Apabila ia tidak aktif juga jadi bahan pembicaraan jemaat, padahal sebagai isteri pendeta belum tentu menguasai bidang tersebut. Yang sangat kelewatan adalah majelis juga turut membicarakan masalah ini. Sebaliknya jika sang isteri pendeta terlalu aktif, maka dituduh lebih dominant.

Lalu sekarang bagaimana? Seorang penulis mengatakan bahwa kalau menjadi isteri pendeta itu mestinya berpenampilan menarik, tetapi jangan terlalu menarik, karena bisa dianggap bersaing dengan jemaatnya. Harus mempunyai gaun-gaun yang bagus, namun jangan terlalu bagus (justru akan dihargai sekali, kalau ternyata gaun itu dibuat sendiri); ia juga harus seorang yang rapi, namun juga tidak boleh terlalu rapi, ramah dan tidak boleh terlalu ramah, harus agresif memberi salam kepada orang terutama pada jemaat, namun tetap tidak boleh terlalu agresif. Ia harus cerdas, tetapi tidak boleh terlalu cerdas, harus terpelajar, namun tidak boleh terlalu terpelajar, karena dianggap bersaing dengan suaminya. Isteri pendeta harus tampil sederhana, namun tidak boleh terlalu sederhana, karena bisa disebut kampungan, ia harus terampil, namun jangan terlalu terampil, ia harus luwes, tetapi tidak boleh terlalu luwes. Boleh dibilang setiap poin, terdapat peringatan tidak boleh terlalu, dan yang boleh terlalu baginya hanya masalah kerohaniannya.

Sering isteri pendeta mengalami berbagai tekanan yang anda tidak pernah menyelaminya. Kadang dalam memilih teman, mau tidak mau sebenarnya teman-teman nya itu adalah jemaat suaminya. Yang namanya manusia, kadang ada teman yang biasa, agak akrab dan juga yang kurang akrab. Ketika ia akrab pada seseorang, maka hal ini menjadi perbincangan jemaat yang lain; akhirnya timbul gossip yang bervariasi. Apalagi kalau beliau akrab dengan jemaat yang kaya, mulailah kalimat “mata duitan� “pilih kasih� dan sejenisnya muncul. Kecuali kalau sang isteri pendeta itu juga orang profesional, ia kerja di kantor atau perusahaan, sehingga teman-teman di luar gerejanya cukup banyak. Namun di Indonesia biasanya gereja tidak memperbolehkan isteri pendeta kerja di luar, karena “dianggap� honor untuk pendeta itu sudah mencakup untuk sang isteri. Kalaupun diperbolehkan kerja maka buntut-buntutnya adalah menjadi gossip jemaat.

Di lain pihak kadang ada isteri pendeta yang tidak mendukung pelayanan suaminya. Si pendeta baik sekali seperti malaikat, namun isterinya selalu menjadi bahan pembicaraan. Pernah di suatu gereja, waktu itu salah seorang rekan memperkenalkan seorang hamba Tuhan yang hendak diundang untuk pelayanan di gereja. Berkotbah pasti beliau mampu, pengetahuannya juga lumayan. Namun ketika di selidiki tentang isterinya, mulailah timbul perdebatan. Banyak yang tidak setuju mengundang hamba Tuhan tersebut. Mengapa? Ternyata sang isteri ketika mereka melayani di gereja lain pada masa-masa lalu, sering cekcok dengan jemaat dan sesama hamba Tuhan. Belum lagi ditambah ia begitu dominan, sehingga ada banyak hal yang diatur, dari bagian kebersihan sampai ketua majelis.

Selain itu banyak isteri pendeta yang aktif melayani di gereja dengan baik, padahal majelis tidak membayar gajinya. Terlalu baik juga tidak baik, saya pernah melihat sendiri, ketika saya berkesempatan praktek di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Ada majelis yang berani memarahi isteri pendeta di depan umum, padahal kalau dilihat dari peristiwa yang terjadi, kesalahannya bukan terletak padanya. Namun karena masalahnya terjadi dengan jemaat yang disegani, maka kesalahan tersebut dilimpahkan kepada isteri pendeta. Lihatlah, betapa tertekannya wahai isteri pendeta. Oleh karena kejadian ini, maka setengah tahun kemudian sang pendeta mengundurkan diri.

Boleh dibilang para isteri pendeta sudah terlalu sering mendengar baik secara langsung atau tidak berbagai pujian dan bahkan kecaman dari jemaat, baik itu mengenai pelayanan suaminya yang dianggap sukses atau tidak beres, mulai dari kotbahnya yang tidak menarik, hingga kurang memberuikan perhatian. Sang isteri hanya dapat memendam semua persoalan yang jelek ini, tanpa dapat menceritakan pada yang lain, sebab orang lain tidak pernah akan mengerti pergumulannya. Ia juga segan menyampaikan pada suaminya, sebab apabila ia kemukakan hal ini maka otomatis ia akan memindahkan beban berat padanya, padahal selama ini ia menanggung berbagai beban yang cukup berat pula.

Peran seorang isteri pendeta sangat diharapkan oleh jemaat, ia seperti ikan di dalam aquarium, sorotan dari berbagai sudut selalu ada. Dia harus pandai mengurus rumah tangga, supaya jemaat boleh meneladaninya. Selain itu dalam hal mendidik anak, ia mesti lebih baik dari dari jemaat atau wanita lain, karena ia dianggap sebagai teladan buat kaum wanita. Saya mengenal banyak isteri pendeta dengan berbagai macam talenta dan juga karakter. Ada isteri pendeta yang benar-benar kelihatannya begitu sempurna, baik, ramah, namun ada juga isteri pendeta yang begitu mengecewakan.

Sering juga terjadi, para pendeta yang melayani di satu gereja tidak akur gara-gara para isterinya yang suka menyebar gossip. Pernah terjadi di sebuah gereja, hasil rapat majelis yang cukup penting yang mestinya belum waktunya disampaikan kepada jemaat, namun karena sang isteri pendeta itu sudah mengetahuinya terlebih dahulu, maka berita tersebut sudah tersebar ke jemaat sebelum resmi diumumkan; lebih cepat dari siaran radio.

Sebenarnya isteri pendeta itu juga membutuhkan pendeta sebagaimana seorang jemaat, namun ia tidak pernah menemukan sosok seorang pendeta yang ideal. Karena ia berhadapan dengan sang suami setiap hari yang sudah mengetahui baik buruknya. Bahkan kadang tatkala menceritakan apa yang menjadi pergumulannya, ia bukan mendapat kekuatan dari sang pendeta, tetapi justru mendapat omelan. Lihatlah itu, pergumulan yang sering dihadapi oleh seorang isteri pendeta. Jadi sebenarnya baginya tidak ada tempat untuk mengadu. Tidak mungkin mereka pergi mengadu kepada kepada rekan pendeta lain, ini akan menjadi bumerang yang lebih dahsyat, apalagi mengadu pada pendeta yang ada di gereja lain. Sang isteri pendeta harus mendiamkan segala pergumulannya sendiri, barangkali hanya cucuran air mata saja yang mengalir disertai pergumulan bersama Tuhannya.

Masih banyak lagi yang dapat kita uraikan terhadap pergumulan isteri pendeta, namun cukuplah di sini. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan terhadap sang isteri pendeta? Kalau anda adalah seorang isteri pendeta, mari kita melangkah terus untuk yang terbaik bagi Tuhan. Saya yakin, kalau motivasi pelayanan kita murni, dan kita rela menghindari berbagai percekcokan dengan hikmat dari Tuhan; maka Tuhan yang kita layani akan bekerja sendiri untuk mendukung dan sekaligus membelah kita.

Jikalau anda adalah seorang majelis atau jemaat, ketahuilah bahwa sesungguhnya sang isteri pendeta anda itu butuh teman, ia juga manusia biasa; ia butuh orang-orang yang mengerti dia; sebab ia juga memiliki kelemahan. Anda mesti tahu bahwa kadang ia kesepian, ditinggal pelayanan berhari-hari oleh suaminya. Sang suaminya lebih memperhatikan urusan gereja, urusan orang lain ketimbang urusan isterinya sendiri.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu, apa yang anda perbuat bagi isteri pendeta anda? Hadiah apa yang anda berikan padanya? Omelan? Cacian? Kritik? Inikah jemaat gereja yang baik itu? Bersyukurlah, kalau ternyata pendeta anda memiliki anak, sehingga sang isteri masih ada yang menemani dan menghibur. Wahai isteri pendeta, saya bisa memaklumi kalau anda merasakan banyak hal yang tidak menyenangkan, ketahuilah Tuhan Yesus yang dilayani oleh suami anda itu tidak pernah meninggalkan anda. Jadilah wanita yang bijak, yang senantiasa bertahan, walaupun ada kesulitan. Jangan gara-gara satau dua orang jemaat ini anda meninggalkan panggilan Tuhan. Amin

*)Penulis adalah pendeta Gereja Injili Indonesia, San Jose. Artikel ini dikutip dari bukunya yang berjudul Pendetaku Dipuji dan Dicaci terbitan Kairos, Jogjakarta. Dapat dihubungi dengan email : saumiman@gmail.com
« back

Home | Profile | News & Events | Articles | Products | Churches | Contact Us | F A Q

| Books | Bible | Audio Visual | Gifts |

©2005 VISI CHRISTIAN ONLINE BOOKSTORE - Developed by net-dsign.