|
![]()
8/20/2009
Menciptakan Komunikasi yang Sehat antara Suami-Isteri
Pernikahan merupakan
penyatuan antara dua pribadi yang sangat berbeda. Keduanya berbeda dalam banyak
hal, antara lain kepribadian/karakter, nilai-nilai, kebiasaan, cara berpikir,
pengendalian emosi, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan
potensi-potensi konflik dikemudian hari yang tentu saja, ibarat bom waktu, siap
untuk meledak kapan saja. Sebagai salah satu usaha preventif, perlu ada “sebuah
jembatan” untuk menghubungkan kedua belah pihak. Itulah komunikasi, yang
didefinisikan oleh Norman Wright sebagai proses berbagi diri, dengan atau tanpa
kata-kata, agar pihak lain dapat memahami dan menerima maksud dari si pemberi
informasi. Ibarat sebuah jendela, yang olehnya kita bisa melihat apa isi
didalam sebuah rumah, demikian pula dengan komunikasi. Tanpa
komunikasi, mustahil kita bisa memahami lebih jauh mengenai diri pasangan kita.
Tanpa komunikasi, tidak akan ada hubungan (relationship). Menarik untuk
menyimak apa yang dikatakan oleh Reuel Howe: Komunikasi bagi cinta adalah ibarat
darah bagi tubuh. Keluarkanlah darah dari tubuh, maka tubuh akan mati.
Hilangkanlah komunikasi dari pernikahan, maka maka pernikahan itu akan hancur.
Banyak pasangan
suami-isteri yang pada masa kini cenderung tidak memiliki cara berkomunikasi
yang efektif dan bisa menghasilkan rasa saling pengertian yang dibutuhkan.
Mereka mungkin mengira bahwa dengan banyaknya pesan/informasi yang disampaikan
berarti dengan sendirinya komunikasi diantara mereka sudahlah efektif. Mereka
tidak menyadari bahwa efektifitas sebuah komunikasi bukanlah ditentukan oleh
kuantitas semata, melainkan pada mengapa dan bagaimana menyampaikannya (Norman
Wright). Kebanyakan komunikasi diantara suami-isteri hanyalah menyampaikan
informasi: “Pekerjaan saya berat sekali hari ini; Anak-anak kita semakin sulit saja
untuk diatur,” dan lain-lain.
Terhadap kenyataan yang
demikian, tidaklah mengherankan jika Balswick kemudian mengingatkan bahwa komunikasi
yang efektif merupakan inti dari kehidupan sebuah keluarga, dimana setiap dari mereka
dapat saling berinteraksi, baik secara verbal maupun non-verbal, untuk mengekspresikan
perasaannya masing-masing. Melalui ekspresi perasaan cinta, perhatian,
kerinduan, bahkan kemarahan dan kekecewaan, konflik-konflik bisa saja terjadi,
namun jika mampu diselesaikan dengan baik, akan meningkatkan ikatan dan
keintiman diantara mereka. Keluarga akan bertumbuh dan hubungan akan semakin
mendalam. Oleh karena itu, tanpa kemampuan komunikasi yang efektif, sebuah
keluarga tidak lain hanyalah sebuah kumpulan individu yang tidak saling
berinteraksi. Keluarga yang sehat adalah sebuah keluarga yang
anggota-anggotanya memiliki kebebasan dan kemampuan untuk secara efektif
berkomunikasi satu sama lain.
Bagaimana dengan
komunikasi Anda bersama pasangan? Apakah Anda merasa bahwa dengan komunikasi
yang terhambat saat ini, Anda merasa bahwa pasangan Anda sudah tidak berminat, bergairah,
bahkan mencintai Anda lagi? Apakah Anda mulai berpikir kalau Anda mungkin salah
dalam memilih pasangan? Atau Anda merasa tidak mampu lagi, gelisah, tidak aman,
dan putus asa? Jika kondisi demikian melanda diri Anda, simaklah apa yang
dikatakan oleh Romie Hurley. Menurutnya, jika pasangan memiliki sikap yang
berbeda dengan Anda dalam hal berkomunikasi, hal itu tidaklah selalu berarti
bahwa pernikahan Anda sedang berada dalam masalah besar dan sudah tidak ada
harapan lagi. Cobalah untuk meneliti lebih cermat lagi, apakah mungkin
persoalan besar yang Anda kira tersebut ternyata disebabkan oleh masalah
miskomunikasi semata? Jangan remehkan masalah ini, sebab para ahli pernikahan
menyatakan bahwa salah satu faktor utama penyebab timbulnya berbagai masalah
dalam pernikahan adalah masalah miskomunikasi. Miskomunikasi berarti pesan yang
disampaikan dipahami dengan pengertian yang salah oleh si penerima pesan.
Misalnya, seorang suami hendak menyampaikan pesan “I love you” kepada isterinya
dengan cara membelikan sebuah hadiah kejutan, namun sesungguhnya yang isterinya
inginkan adalah ekspresi dan ungkapan cinta yang langsung keluar dari mulut
suaminya. Atau seorang isteri yang hendak menyampaikan pesan kasih sayangnya
pada sang suami dengan cara mempersiapkan masakan yang terbaik setiap hari
sepulang dari kantor, namun sebenarnya yang suaminya inginkan adalah sikap sang
isteri yang mau mendengarkan dan memahami keluhan-keluhannya selama dikantor. Miskomunikasi,
bukan?
Sangatlah
disayangkan jikalau banyak pasangan yang justru bersikap kontra produktif pada
saat miskomunikasi terjadi. Salah satu
sikap yang paling mengganggu dan menghancurkan dalam berkomunikasi adalah sikap
diam. Sikap ini dapat mengkomunikasikan banyak hal: kebahagiaan, kepuasan,
kesenangan, dan lain-lain, namun yang lebih sering dikomunikasikan adalah
ketidakpuasan, penghinaan, kemarahan, cibiran, kedongkolan, ancaman, dan
lain-lain, sehingga bisa menjadi sangat destruktif dan sering dipakai sebagai
senjata penghukum. Sikap-sikap lainnya yang juga dapat merusak pola komunikasi
Anda dan pasangan adalah sikap menghindari, mengalihkan, memutarbalikkan, dan
mematikan topik pembicaraan (Norman Wright).
Masalah-masalah
pernikahan dapat pula berkembang karena komunikasi nonverbal (bahasa tubuh,
mimik, tatapan mata, suara, dan lain-lain) yang tidak memuaskan. Perilaku
nonverbal yang menyertai suatu pernyataan ternyata lebih cepat ditangkap oleh
pasangan dan dapat terus diingat. Sayangnya, orang yang berbicara biasanya
cenderung hanya mengingat apa yang diucapkannya daripada perilaku yang
menyertai ucapannya (Mark Lee). Sebagai contoh, ketika akan berangkat kerja, seorang
suami merangkul dan mencium isterinya serta berkata mesra: “I love you, Ma…” ,
sudah pasti bukan main senang dan berbunga-bunganya hati sang isteri. Namun
saat ia mendapati pakaian kotor suaminya pada berserakan dilantai,
puntung-puntung rokok yang berceceran, sisa sarapan suami yang berantakan, dan
lain-lain, kemungkinan besar sang isteri akan bertanya-tanya dalam hati: Sungguhkah
ia mencintai saya? Mengapa ia memperlakukan saya seperti seorang pembantu? Rasa
bahagia itu mulai buyar. Rasa percaya mulai berubah menjadi ragu-ragu. Isteri
merasa diabaikan, karena harapannya agar suami mau membantunya sia-sia.
Komunikasi verbal suami bertentangan dengan komunikasi non verbalnya.
Keberadaan
masalah sudah barang tentu tidak akan pernah ada habis-habisnya. Ada sebuah
pernyataan yang menarik untuk disimak: Hidup itu 10%-nya adalah apa yang
terjadi pada kita (termasuk masalah), sedangkan 90%-nya adalah bagaimana cara
kita menghadapinya. Hal yang sama hendaknya juga berlaku bagi keluarga Anda.
Jika Anda menginginkan keluarga Anda tetap utuh, maka betapapun berat dan
kompleksnya masalah komunikasi yang dihadapi, masalah tersebut harus dapat dihadapi
dan diselesaikan. Untuk itu, salah satu faktor yang sangat penting untuk
dimiliki oleh setiap orang adalah kemampuan untuk beradaptasi, bukan hanya
terhadap apa yang menjadi tuntutan Anda kepada pasangan, melainkan juga
terhadap apa yang pasangan Anda tuntut terhadap diri Anda sendiri. Dengan demikian keseimbangan
akan terjadi. (NP)
| « back |





F A Q
